Featured

First blog post

This is the post excerpt.

Iklan

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Nona Manja dan dramatisnya

Ingin membenci namun aku belum pernah sangggup membenci. Mengabaikanmu adalah masalah tersulit yang ingin bisa aku lakukan. Marahku kepadamu tidak pernah bisa menghentikan perhatian penuh cinta dan sayangku padamu. Karena nyatanya memperhatikan dan mencintaimu adalah candu untukku setiap harinya. Sebesar apa pun amarahku karena sikapmu belum pernah mampu menggoyahkan inginku melewati hari menyambut usia senja. Sikapmu yang membuatku marah murka pun tak mampu merayu hatiku untuk melepasmu sebab aku terlanjur memilihmu sebagai teman hidupku.

Aku menerima semua sikapmu karena aku telah memilihmu bukan karena kau kekasihku. Sebab aku memilihmu untuk berkomitmen melewati hari demi hari hingga waktu itu tiba dan kau nyata menjadi teman hidupku melewati setiap senja yang datang dan hilang. Rindu selalu kutampakan ke permukaan agar kau tau bahwa setip hari bayangmu tidak pernah lepas dari sisiku. Kau harus tau pasti bahwa setiap rindu yang mucul ke permukaan adalah untukmu, sebab aku memilihmu untuk menjadi seseorang yang selalu kurindu.

Memilihmu untuk berkomitmen melewati hari demi hari hingga bayangku dan bayangmu menjadi nyata disisi. Berdamai dengan waktu, menaklukan setiap rasa yang menguncang hati adalah kebiasaan kita setiap hari karena saat ini aku dan kamu masih sama menjadi bayangan disisi. Kelak jika saat itu telah tiba maka kita akan menjadi nyata disisi dan semoga bayangan itu benar-benar kita hapuskan karena aku merasa cukup menjadi bayangan disisimu. Dan aku percaya kau pun merasa cukup menjadi bayangan disisiku maka saat kita telah menjadi nyata disisi mari benar-benar merealisasikan komitmen yang katanya aku adalah pilihan hidupmu untuk menjadi teman hidupmu dan aku akan menjadi teman hidupmu, menemanimu hingga aku menua tak lagi bisa membuka mata dan bernafas.

08.08.18/DanLestari/Tangerang

Nona manja yang cerewet dengan teman hidupnya

Diriku yang manja dan cerewet sudah kau kenal lama sejak saat itu hingga saat ini, kau mengenalku dengan baik setiap harinya. Setiap harinya kita selalu bersama meski hanya sekedar bersama dalam sebuah penantian yang belum berujung, bersama dalam sebuah perjuangan yang panjang. Perjalanan panjang yang aku lalui memaksakan kita menjauhkan raga dan itu tidak membuatmu gentar untuk tetap berjuang menungguku. Kamu tahu betul bagaimana sikapku yang manja dan cerewet setiap harinya, sikap manja dan cerewetku yang tidak pernah kau keluhkan.

Setiap harinya aku tidak membiarkanmu lolos dari pengetahuanku untuk sekedar mengabarkan pesan singkat kau sedang apa, dimana, bersama siapa dan engkau pun tidak pernah lupa untuk memberi pesan singkat setiap harinya. Entah itu benar kau ingin memberi kabar kepadaku atau sekedar kau takut aku ngomel karena kau meloloskan diri tidak memberikan kabar kepadaku, yang pasti kau selalu membuatku tenang dengan mengirimkan kabar singkatmu.

Tidak pagi, siang, sore, malam, atau bahkan dini hari kau selalu ada ketika aku meminta untuk menemaniku…lelahmu tidak pernah kau pikirkan hanya karena ingin membuatku senang dengan permintaan-permintaan manjaku. Tentu aku sangat senang, bahagia, bersyukur memiliki kekasih sepertimu namun dibalik itu semua ada beberapa pertanyaan yang aku pendam, aku sembunyikan, dan belum pernah berani aku ungkapkan secara tegas.

pertanyaan itu selalu terselip, tersembunyi, dan tidak sengaja sering teringat ketika malam mulai menyapa. Namun yang pasti segala pertanyaan yang terselip dan tersembunyi untukmu ini tidak pernah menghalangi berkembangnya perasaan senang, bahagia, bersyukurku memiliki kekasih yang hebat sepertimu.

250718/DanLestari/Tangerang

Ruang kotak berisi

Mentari begitu semangat memunculkan sinarnya sampai-sampai ia lupa bahwa terkadang bumi pun juga membutuhkan keredupan sinarnya. Pagi ini tidak seperti biasanya karena pagi ini aku laksana satpam yang mengawasi tamu masuk ke perumahan elit, ya saat ini aku sedang memperhatikan anak-anaku tersayang yang sedang melakukan ulangan umum semester genap. Disela-sela memperhatikan mereka kusempatkan untuk sedikit menarikan jemariku di tab mungil yang biasa kubawa kemana-mana untuk menjadi teman setia dikala sepi menemui diri dan dikala teman hidupku sedang sibuk bekerja.
Hari ini hari kedua anak-anaku mengikuti ulangan umum semester genap dan eeng ong eng ketika saya masuk mereka langsung berteriak iyesss …yang ngawas. Wajah mereka terlihat bahagia sumringah dan merasa lega setelah beberapa menit menanti-nanti sir/miss yang datang untuk menjadi pemerhati mereka. Mereka anak-anak yang baik mengerjakan soal dengan baik meskipun di jam-jam trkahir sedikit ramai dan berhubung saya pernah menjadi mereka mengikuti ulangan yang terkadang apa yang kita pelajari tidak keluar di soal ulangan juga terkadang sudah belajar lempeng ee ternyata setelah masuk kelas lupa apa yang dipelajari semalam.
Ketika memperhatikan mereka saya sebagai seorang pemerhati yang pernah menduduki posisi mereka saya tidak banyak bicara juga tidak banyak bertingkah. Saya hanya duduk manis di depan dan ketika ada dari mereka yang mengeluarkan suara-suara entah lewat gerakan atau mulutnya baru saya bertindak. Iyaa paling saya akan melihat jam dan berkata kepada mereka “waktunya masih lama nak, jangan terburu-terburu, kerjakan yang mudah-mudah terlebih dahulu lalu aku akan keliling mengitari bangku-bangku mereka melirik apkah mereka sudah selesai mengerjakan soal-soalnya” dan mereka menjawab *soaalnya susah-susah semua bu…pusing ngerjain dan bla bla bla”.
Seketika saya menjadi diam meringis dan termenung mengingat “mungkin saya dulu juga seperti mereka ketika kesusahan mengerjakan soal ulangan” dan seketika juga saya langsung ingat oleh dosen yang baik kepada kami dulu waktu menjadi mahasiswa. Apa kebaikannya…biarkan kami saja yang tahu dan mengingatnya sebagai kenangan yang indah di bangku mahasiswa. Ternyata sperti ini rasanya menjadi pemerhati anak-anak yang sedang pusing mengerjakan soal-soal ulangan. Iya kini aku sudah merasakan dua posisi yang dulu menjadi objek para pemerhati kini sekarang aku berganti menjadi sesorang yang memerhatikan objek.

DanLesatri, 110518
Tangerang

Say yes to say true

Hendaklah orang selalu menjaga ransangan ucapannya
Hendaklah seseorang mengendalikan ucapannya
Setelah menghentikan perbuatan-perbuatan jahat melalui ucapan
Hendaklah seseorang giat melakukan perbuatan-perbuatan bajik melalui ucapan
(Dhammapada, kodhavagga syair 232)

Sebagai individu yang saling hidup berdampingan antara satu individu dengan individu yang lain manusia pasti akan saling membutuhkan dan saling berhubungan. Maka dari itu Sang Buddha mengatakan hendaknya kita menjaga tiga pintu indera kita yaitu pikiran, ucapan, dan perbuatan agar tidak menciptakan sebuah kondisi yang tidak menyenangkan bagi diri sendiri maupun orang lain. salah satu hal yang setiap hari manusia lakukan adalah berkomunikasi sebagai manusia hidup yang saling bergantungan, saling berhubungan pasti kita akan melakukan sebuah komunikasi. Komunikasi disini tidak hanya mencakup ketika kita saling bertemu dan bertegur sapa namun komunikasi kini di zaman sekarang sudah memilki banyak cakupan yaitu mulai dari komunikasi verbal secara lisan yang saling bertatap muka sampai komunikasi yang nonverbal yaitu melalui via media komunikasi handphone menggunakan aplikasi Whatsapp, BBM, Line, Messenger dan lain sebagainya.
Sebenarnya ketika seseorang sedang berpikir, sadar atau tanpa sadar kita menggunakan bahasa. Uacapan sesungguhnya adalah wujud dari pikiran atau pemikiran-pemikiran kita sehingga batas antara ucapan dan pikiran itu sangat kecil dan halus. Maka dari itu ketika kita berpikir hendaknya kita berpikir hal-hal yang positif, hal-hal yang bermanfaat, hal-hal yang menimbulkan kebahagiaan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. penting kiranya ketika seseorang akan berucap memikirkannya terlebih dahulu apakah kata-kata yang saya ucapkan ini akan membuat diri saya dan orang lain berbahagia atau tidak, untuk meninimalis ucapan-ucapan negatif keluar yang membuat kondisi tidak menyenangkan terjadi.
Sang Buddha mengatakan dalam kitab Dhammapada syair 361 bahwa “sungguh baik mengendalikan perbuatan, sungguh baik mengendalikan ucapan, sungguh baik mengendalikan pikiran, sungguh baik mengendalikan semuanya (indria-indria). Seorang yang dapat mengendalikan semuanya akan bebas dari penderitaan.” Maka dari itu hendaklah seseorang selalu berusaha untuk menjaga rangsangan ucapannya dengan selalu mengendalikan ucapannya. Berikut ini merupakan definisi dari ucapan benar. Sesuai dengan definisi di Saccavibhanga Sutta, Majhima Nikaya. Maka suatu ucapan dikatakan benar apabila memenuhi kriteria berikut:
Ucapan yang menjauhi kebohongan
Menghindari fitnah atau kata-kata untuk memecah belah yang didasari kebencian
Tidak mengandung kata-kata kasar
Tidak melakukan obrolan kosong yang tidak bermanfaat.
Jadi apabila seseorang berucap dan melanggar meskipun hanya salah satu dari kriteria di atas, ucapan tersebut tidak dikategorikan ucapan benar. Berkaitan dengan ucapan benar Sang Buddha mengatakan bahwa “melihat ucapan salah sebagai ucapan salah dan ucapan benar sebagai ucapan benar. Inilah pandangan benar seseorang.” (MN. 117.16). Jadi untuk mengembangkan pandangan benar juga mensyaratkan seseorang harus memahami kebenaran dari ucapan. Untuk mengetahui mana ucapan yang salah dan mana ucapan yang benar seseorang perlu memiliki pandangan benar. Contohnya ketika seseorang berbicara kasar pasti telah tertanam dalam pandangan atau kebiasaan mengatakan katakata kasar. Sebelum berbohong, pastinya pikiran kita juga telah berniat untuk melakukannya. Jadi, pandangan yang buruk dan penuh kebencian dapat terwujud melalui pikiran benci dan ucapan untuk mengadu domba.

Dalam ajaran Buddha pelatihan ucapan benar dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pelatihan secara pasif dan secara aktif. Pelatihan ucapan pasif tersebut dapat dilakukan dengan cara menghindari ucapan bohong/tidak benar, menjauhi ucapan yang memecah belah atau memfitnah, menghindari berkata kasar, dan menghindari obrolan kosong. Sedangkan pelatihan ucapan benar secara aktif dapat dilakukan dengan membiasakan diri berucap apa adanya/jujur, mengucapkan kata-kata yang dapat menimbulkan keharmonisan, berucap dengan kata-kata yang lembut, dan melakukan obrolan yang bermanfaat.
Selain di dalam Anguttara Nikaya Sang Buddha menjelaskan ciri-ciri ucapan baik dan benar tersebut sebagai beriku :
Tepat waktu (sesuai dengan situasi dan kondisi)
Sesuai dengan kebenaran (sesuai dengan kenyataan)
Lembut (tenang, tidak kasar, dan tidak kasar)
Bertujuan (demi kebaikan banyak orang)
Berdasarkan pikiran cinta kasih (menyatukan dan menimbulkan keharmonisan)
Ketika seseorang sudah mengetahui definisi dan ciri-ciri yang berkaitan dengan ucapan benar hendaknya menjaga rangsangan ucapannya dengan mengendalikan ucapannya sehingga yang muncul adalh ucapan-ucpan benar yang bermanfaat yang menimbulkan sebuah kebahagian dan keharmonisan bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Short story

Hari ini 27 April 2018 kembali kulangkahkan kakiku menuju tempat tujuan setelah hari kemarin 25 April 2018 mengistirahatkan kaki dari Kota dingin Bandung. Perjalanan kali ini saya agak memaksakan tubuh perkara waktu lalu ketika sepulang dari bandung demam tinggi melanda tubuh mungilku.

Memaksakan tubuh tapi tidak memaksakan hati karena nyatanya hatiku sangat senang, senang sekali. Pergi bersama ibu-bapak guru yang lain serta anak-anakku kelas 9 yang sedang merayakan perpisahan mereka seusai mengikuti UNBK kemarin siang.

Tiga tahun yang lalu mereka dititipkan oleh kedua orangtuanya kepada kami ibu dan bapak guru dan pada waktu itu pula mereka telah menjadi tanggung jawab kami sebagai pendidik. Tiga tahun awal mereka tak saling mengenal hingga tiga tahun terakhir mereka menjadi sebuah keluarga besar yang saling menyayangi.

Untuk anak-anakku tersayang ini bukanlah sebuah akhir tapi ini adalah sebuah awal dari perjalanan baru untuk kalian. Gapailah asamu, gapailah cita-citamu hingga umur menutupnya. Kelak jika kalian sudah menjadi seorang yang dewasa tolong jangan lupakan kami, kunjungi kami ibu-bapak guru kalian yang pernah memberikan bekal pengetahuan untuk kalian.

Teruslah berjalan sesuai keinginan kalian nak namun ingat berjalanlah di jalan yang baik jalan kebenaran. Terima kasih anak-anakki telah menjadi kebanggaan kami.

270418
DanLestari/dalam gerobak besi/ menujujogja

Malaikatku

Kesabaran yang kau punnya

Kelembutan yang kau miliki

Membuat aku kita tetap bersama

Sampai pada saat ini di bulan ke-15 ini

Aku selalu memuji dan membanggakanmu didiriku bahkan di setiap tulisanku. Hampir tidak ada cela satu pun tentangmu yang aku tuliskan. Bukan karena kamu tidak ada celanya tetapi celamu ada dikelebihanku dan celaku ada dikelebihanmu sehingga semua itu tidak menjadi perkara untukku. Dari setiap moment ke moment atau dari setiap bulan ke bulan selalu ada kejadian yang tidak jarang membuat aku memarahimu atau sekedar ngambek kepadamu. Dan kali ini aku akan menceritakan celaku, cela kita berdua.

Waktu itu aku sangat ingat betul ketika aku murka kepadamu, aku naik pitam dan tidak lagi bisa mengendalikan emosiku hingga pada saat itu aku berbisik ditelingamu karena sangking emosinya aku. Di sana kamu hanya diam tidak berkata apa-apa meskipun kamu menyuarakan suaramu kamu hanya berkata “iya, iya aku salah” tidak ada kata lain selain itu yang keluar dari mulutmu. Entahlah tingkat cuekmu itu seberapa tebalnya hingga untuk mengeluarkan kata-kata yang ingin kudengar dari mulutmu saja aku harus marah-marah/ngambek terlebih dahulu. Lebih parahnya lagi aku sudah marah, aku sudah ngambek kau tetap saja cuek dan tidak peka. Iya kamu malaikatku, tolong jangan membuatku berdosa lagi karena ingin memarahimu atau bahkan sampai berbisik di telingamu.

Oh Tuhan dia ini malaikat yang baik tetapi kenapa tingkat cuek dan ketidak pekaannya tebal sekali. Haruskah kuberi kapsul kepekaan agar dia memiliki kepekaan. Jika perlu diberi kapsul akan kuberi ia kapsul kepekaan dengan dosis yang tinggi dan akan kuminta ia minum kapsul itu 3X Sehari agar lekas sehat dari sikap cueknya dan lekas memiliki kepekaan.

Entahlah …. tapi aku sangat menyayanginya, bukan karena sikapnya yang cuek dan tidak peka tapi karena kesabaran dan kelembutan hatinya aku menyayanginya sampai saat ini. Dan dia adalah lelaki kedua setelah ayah yang paling bisa nyabarin/nyerateni sikapku yang manja, kekanak-kanakan, dan emosian juga suka makan hehehe. Berkat kesabaran dan kelembutan hatinya-lah kami masih tetap bersama hingga pada saat ini di bulan maret di angka ke-15. Semoga lekas sembuh dari sikap cuek dan lekas memiliki kepekaan ya malaikatku. Hehehehhe

 

DanLestari#270318#Tangerang

 

iya dia kamu

Marah dan ingin dimengerti

Tidak ingin bercerita namun ingin dimengerti

Diam namun menuntut

Berlari namun takut

Ingin melepaskan namun mengenggam

Malam itu Aku sedang jutek, males, dan sedang dalam keadaan mood yang tidak bagus namun kau tetap bersikap baik kepadaku kau tidak pernah membalas ketidak baikan sikapku. Entahlah kau ini manusia atau malaikat, tapi sepertianya kau adalah malaikat yang dilahirkan oleh ibu untuk menjadi temanku melangkah melewati setiap proses demi proses.

Maafkan saya yang kadang bertindak tidak sesuai dengan keinginanmu, berucap tak sesaui maumu. Saya sering lalai dalam berpikir, berucap, maupun bertindak namun kamu selalu memaklumi. Saya sering lalai dalam berpikir dan berucap namun kamu selalu menerima tanpa protes. Saya sering lalai dalam bersikap dan mengambil keputusan dan berkali-kali kelalaian itu sudah kulakukan untukmu untuk kita namun kamu selalu memaklumiku dan tetap menerimaku tanpa protes. Sikapmu kepadaku pun tidak pernah berubah masih sama seperti dulu yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.

Ketika malam sudah tak lagi kusuarakan ucapan selamat tidur, tidak lagi kusuarakan perhatian hangatku seperti biasanya perkara aku yang sedang naik darah kau tetap bersikap lembut dan penuh kasih sayang menanyakan keadaanku, menanyakan aktivitas yang telah aku kerjakan, dan mengucapkan selamat tidur untukku. Pagi-pagi kau tetap menyapaku dengan lontaran khas’mu, kau tetap mengucapkan pamit berangkat kerja seperti biasa. Sungguh aku mengakui keluhuran hatimu yang kadang membuatku merasa tidak pantas memilikimu.

Aku akui kau malaikat yang cuek, sangat cuek tapi tak apa meski engkau cuek engkau selalu menjadi dan memberi apa yang aku butuhkan bukan apa yang aku inginkan, aku rasa apa yang aku butuhkan sudah bisa mewakili apa yang aku inginkan. Terima kasih telah sabar dengan segala sikapku terima kasih telah menjadi teman hidupku melewati setiap proses demi proses. Selamat 27 Maret 2018 pecandu kopiku.

DanLestari#270318#Tangerang